Pancasila Diera Pandemi, Berikut Peran Yang Bisa Dilakukan Generasi Milenial ?

Pancasila Diera Pandemi, Berikut Peran Yang Bisa Dilakukan Generasi Milenial ?

——-   Sejak dicetuskan oleh pendiri bangsa, 1 Juni 1945, sebagai Hari Lahir Pancasila yang diterima secara luas dan telah final menjadi dasar negara dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Keberadaan Pancasila sebagai pedoman hidup bangsa tidak habis – habis menjadi buah bibir dari setiap periode masa dinegeri ini. Hingga kini pun, dimasa pandemi Covid-19, Pancasila seperti “Perawan Cantik” yang digoda kecantikannya.
Disaat bangsa dan negara ini menghadapi masa – masa sulit pandemi Covid-19, dibutuhkan beribu – beribu tenaga dan pikiran dari agen perubahan (Agent of Change), generasi pendobrak dan generasi muda yang energik yang akrab disapa Generasi Milenial.
Bila kita berkaca pada pasca kelahiran Pancasila, banyak catatan sejarah di Negeri ini tidak lepas dari peran generasi kaum muda. Mulai dari kelahiran Pancasila sendiri disana ada Soekarno dan Mohammad Hatta, aksi demo Selasa, 24 Februari 1966, menentang pelantikan anggota Kabinet Dwikora II yang diumumkan Presiden Sukarno yang menewaskan Arif Rahman Hakim, Mahasiswa Fakutas Kedokteran Universitas Indonesia dan Zubaedah, seorang siswi SMA. Peristiwa Malari (Malapetaka Limabelas Januari) 15 Januari 1974 ada tokoh Hariman Siregar dan Syahrir, hingga pada 12 Mei 1998 kala menggulingkan rezim Soeharto, Mahasiswa Trisakti Jakarta pun meninggal.
Artinya apa ?, sejarah diatas mencatat, ada peran anak muda yang turut andil.
William Strauss dan Neil Howe pada bukunya Generations : The History of America’s Future Generations, (1991) disebutkan Generasi Milenial yakni anak – anak muda yang lahir pada tahun 1980-2000an. Dan pada masa pandemi Covid-19 ini, para generasi milenial masuk dalam eranya.
Kini dan kedepan, bicara masa pandemi Covid-19, dimana masa yang penuh ketikdakpastian. Peran dari generasi milenial, baik generasi milenial Indonesia umumnya maupun Kabupaten Muara Enim khususnya di masa pandemi Covid-19 ini, sangat dibutuhkan untuk membantu Pemerintah memberikan ide, gagasan dan pergerakan untuk mengatasi masa – masa sulit ini, tentunya tidak keluar dari nilai – nilai Pancasila dan semangat Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 1965.
Pandemi Covid-19 sudah terjadi kurang lebih sembilan bulan di Negeri tercinta, tentunya kita tidak ingin menambah tugas berat Pemerintah untuk menyelesaikan wabah penyakit ini. Worldometers mencatat angka kematian tertinggi akibat Covid-19 menetapkan Indonesia masuk 20 negara yang dimaksud. Bahkan, Worldometers menempatkan Indonesia pada tahun 2020 menjadi negara terburuk kelima dalam penanganan Covid-19 dengan populasi lebih dari 50 juta jiwa. Dalam situs kemkes.go.id per 3 Oktober 2020 diperoleh data kasus positif Covid-19 di Indonesia bertambah 4.007 sehingga total ada 299.506. Dimana dari jumlah tersebut, 225.052 diantaranya telah sembuh dan 11.055 orang meninggal dunia. Serta pasien sembuh bertambah 3.712 dari hari sebelumnya, dan penambahan yang wafat dari hari sebelumnya sebanyak 83 orang.
Sebagai Agent of Change, kondisi yang terjadi di Negeri ini, dengan semangat ketuhanan yang maha esa, kaum muda harus tetap pada semangat yang religius dengan mengajak segenap lapisan masyarakat, untuk semakin mendekatkan kepada Sang Pencipta beribadah sesuai dengan keyakinan masing – masing. Meminta kepada Tuhan agar wabah Covid-19 ini segera berakhir.
Kaum muda dituntut perannya, membantu menegakan perlakuan setara sesuai harkat dan martabat, tanpa membedakan hak dan kewajiban, berani membela kebenaran dan menjunjung tinggi nilai – nilai kemanusiaan. Seperti pada kasus tidak transparan dalam membuat regulasi dan akses keuangan, baik melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), guna memaksimalkan infrastruktur fasilitas kesehatan (faskes) secara prima untuk menangani pandemi Covid-19. Pemerintah diwajibkan mengajak seluruh elemen masyarakat baik dalam proses penanggaran, eksekusi dilapangan hingga pengawasan. Dengan demikian tidak terdengar lagi rumah sakit kekurangan APD, faskes tidak prima, dan masalah pada bantuan sosial (Bansos) Covid-19 Pemerintah yang tidak tepat sasaran.
Seperti informasi yang diperoleh Ketua Komisi VIII DPR RI, Yandri Susanto dikutip dari tempo.co, terjadi ketidakmutakhiran data kemiskinan antar lembaga pemerintahan dan tak terintegrasi membuat Bansos Covid-19, yang menyebabkan kecemburuan ditengah masyarakat. Sehingga banyak orang yang berhak mendapatkan ternyata tidak mendapatkan, dan terjadi sebaliknya. Padahal dalam Undang – Undang nomor 1 tahun 2020 tentang pelaksanaan penyaluran bansos dan Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 63 tahun 2017 serta Undang – Undang nomor 20 tahun 2001 menegaskan tidak tepat sasaran alias tidak menerapkan by name by adddres akan fatal akibatnya karena akan masuk ke ranah hukum. Terlebih saat ini masuk masa Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tahun 2020 serentak, Bansos ini bisa dijadikan bahan politik. Ini Sangat Bahaya !!!
Disini kaum muda, khususnya pemuda – pemudi Kabupaten Muara Enim bisa ambil peran dengan menggalang dana kemanusiaan yang bisa dijadikan modal bantuan untuk warga yang terkena dampak Covid-19, maupun mengumpulkan donasi dalam bentuk bantuan paket sembako hingga bantuan nasi kotak yang diperuntukan warga yang terkena dampak Covid. Kemudian, nilai sila kedua Pancasila ini bisa diimplementasikan dengan pembagian masker gratis, bagi sanitizer gratis, penyemprotan disinfektan bersama – sama dengan harapan memutus mata rantai penyebaran Covid-19, serta tidak jemu mensosialisasikan 3 M (mencuci tangan, menjaga jarak dan memakai masker).
Nilai persatuan dan kesatuan pada pandemi ini memang sedang diuji. Pada bidang pendidikan banyak siswa dan mahasiswa yang kesulitan dalam proses belajar. Meskipun Menteri Pendidikan Kebudayaan Nadiem Makarim menanggarkan Rp 9 triliun untuk memberikan paket kuota internet untuk siswa, mahasiswa dan dosen.
Yang terjadi kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), ada ganjalan karena menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyatakan, penduduk kita yang melek teknologi hanya sekitar 64,8 persen. Itu artinya, masih ada 92,99 juta penduduk Indonesia yang gagap teknologi. Senada dikeluhkan Wasekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Satriwan Salim, menurutnya masalah fasilitas penunjang PJJ yang banyak dikeluhkan siswa.
Peran generasi milenial dengan menempatkan persatuan kesatuan diatas segalanya, keselamatan bangsa, rela berkorban untuk sesama anak negeri atas dasar Bhineka Tunggal Ika, bisa menuangkan kemampuan atau keunggulan mengusai teknologi dengan membuat media hotspot internet bersama siswa yang kurang mampu atau pelajar yang tidak punya handphone. Sehingga kepentingan pribadi dari teman – teman seusia dapat terpenuhi saat menuntut ilmu dalam jaringan (daring).
Kedudukan warga negara dan warga masyarakat dimasa pandemi ini diuji dengan banyaknya kejadian kriminal yang berbau pemaksaan hak kepada orang lain. Seperti pada kasus penusukan Ustadz Syeih Ai Jabber di Bandarlampung, dan penghalangan terhadap rombongan mantan Panglima TNI Jendera Purnawirawan Gatot Nurmantyo yang hendak berziarah ke Makam Pahlawan Jakarta.
Ini pertanda, tidak adanya rasa menghormati dan tidak adanya sikap menjunjung tinggi hak warga negara diatur pada sila keempat Pancasila. Tugas generasi milenial memberikan pemahaman berbangsa dan bernegara dengan menjunjung rasa musyawarah dan tidak memaksakan kehendak, yakni bisa melalui kampanye di radio, tv, surat kabar, atau bisa memperbanyak seminar kebangsaan di sekolah maupun di lingkungan masyarakat.
Momen tepat, refleksi sila terakhir Pancasila. Mahasiswa, pelajar maupun muda – mudi berikan contoh yang penuh rasa kekeluargaan dan kegotongroyongan di masa pandemi. Rutinkan kembali, kebersamaan di masyarakat kegiatan bersih – bersih lingkungan, efeknya tentu sangat baik lingkungan bersih dan sehat hingga matinya rantai Covid-19.
Kemudian, suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial seperti memberikan bimbingan ilmu kepada masyarakat dalam bentuk pelatihan mandiri maupun melibatkan CSR perusahaan, seperti Pelatihan bidang peternakan, menjahit, tata boga, pertanian, kursus komputer. Sehingga warga yang terkena dampak Covid-19 setelah mendapat bekal ilmu bisa tumbuh mandiri. Seperti dilakukan PT Bukit Asam Tbk di Lapas Kelas IIA Kabupaten Lahat dengan memberikan bantuan pelatihan rias dan tata boga untuk warga binaan.
Dengan fakta dan realita yang terjadi diatas, semoga pergerakan turun kejalan, tampil dimimbar menjadi semangat baru bagi generasi milenial. Percik – percik kebangkitan dan keberanian generasi milenial sebenarnya mulai muncul. Kita ingat, pada Jumat, 14 Agustus 2020 lalu, di Jakarta meskipun jumlahnya ratusan mahasiswa memprotes kebijakan Omnibus Law. Ini tentunya kabar baik, pertanda ada harapan untuk bangsa dan negara bangkit dari masa sulit pandemi Covid-19 dari gerakan generasi milenial.
Manfaatkan momentum Kesaktian Pancasila 1 Oktober 1965, wahai generasi milenial, hantam tembok yang berdiri tegak, dan robohkan rintangan – rintangan yang menghadang. Untuk Indonesia Maju dan Bermartabat !! (Heru Fachrozi)

Foto :

Heru Fachrozi dalam suatu kesempatan. (Property of Heru Fachrozi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *